Info dari Seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia ke 53 Pada 11-12 Oktober 2017 di UNISMA

administrator
Seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia ke 53 dilaksanakan pada tanggal 11-12 Oktober 2017, yang diselenggarakan dan bertempat di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (FK-UNISMA), merupakan kerjasama antara FK-UNISMA dengan BBPPTOOT dan POKJANAS TOI. Tema Seminar Nasional (SemNas) ini adalah “Penggalian, pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan Tumbuhan Obat Indonesi, kajian tumbuhan Moringa oleifera L. (kelor) dan Acalypha indica L (akar kucing)”, sedangkan sub-tema adalah “Pemanfaatan Tumbuhan Obat Indonesia sebagai kandidat obat anti hiperurisemia, anti malaria dan anti bakteri”.

SemNas dibuka secara resmi oleh Rektor UNISMA (Prof. Dr. H. Maskuri, MSi), yang menyatakan bahwa UNISMA dalam pelaksanaan pebelajaran dan penerapan Tridharma-nya selalu mendukung keanekaragaman hayati dan pengembangan pengobatan herbal. Sebelumnya sambutan dari Ketua PPOKJANAS TOI yang juga Kepala Balai Besar Litbang Tumbuhan Obat dan Obat Tradisional (Dra. Licie Widowati, MSi, Apt), dan laporan dari Ketua Panitia Pelaksana yang sekaligus beliau adalah Dekan Fakultas Kedokteran UNISMA (dr. M. Herdadi Erlangga, Sp.PD).

Keynote speech disampaikan oleh Prof (Ris). Dr. Ir. Risfaheri, MSi, Kepala Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian KEMENTAN (menggantikan Kepala Badan Litbang Pertanian), dengan judul Manajemen Rantai Pasok Bahan Baku Obat, dengan moderator adalah Dr. Ir. Yul Harry Bahar dari STPP Bogor. Invited speaker adalah Dr. Rawiwan Charoensup dari School of Health Science, Mae Fah Luang University (Chiang Rai, Thailand) dengan judul “From Research to Market; University as Agent of Change in Traditional Herbal Medicine”, bertindak sebagai moderator adalah Dr. dr. Rahma Triliana, S.Ked, M.Kes.

Topik bahasan utama lainnya adalah :1) Kedokteran berbasis riset dalam patogenesis dan pengobatan hiperurisemia berikut kompilasinya, 2) keamanan dan efektifitass obat sintetik dan herbal anti hiperurisemia, 3) Tinjauan imunologis mekanisme kelor dalam menurunkan kadar asam urat, 4) penggalian potensi Cassia siamea (johar) sebagai kandidat obat anti malaria, 5) Sinergi ABGC dalam pengembangan produk bahan alam, 6) Potensi penggunaan herbal sebagai ajuvan. Dalam seminar juga disampaikan presentasi makalah penunjang dan presentasi poster dari hasil riset dari berbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Narasumber berasal dari ilmuwan dan birokrat dari UNISMA, UNBRAW, UNAIR, Badan POM, Kemen Kesehatan, dan praktisi kesehatan.

Dalam rangkaian acara ini juga dilaksanakan rapat Dewan Pembina POKJANAS TOI, yang dihadiri segenap anggota dewan pembina (Yul H. Bahar hadir sebagai salah satu anggota dewan pembina ini). Beberapa topik diskusi dalam rapat ini adalah:

Evaluasi dan informasi dari pelaksanaan SemNas Tumbuhan Obat Indonesia ke 53 di FK-UNISMA (tanggan 11-12 Oktober 2017), sebagai bahan rujukan pelaksanaan SemNas ke depan, serta masukan bagi rumusan perencanaan dan kebijakan. Rencana pelaksanaan SemNas Tumbuhan Obat Indonesia ke 54 di Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara pada bulan April 2018, dengan topik utama adalah tanaman alang alang dan andaliman. Informasi awal pelaksanaan SemNas Tumbuhan Obat Indonesia ke 55 di Universitas Tidar, Magelang. Perkembangan pembuatan manusrip buku ilmiah tentang Sambiloto, berbagai masukan dan editing tulisan yang diperlukan untuk penyempurnaan buku. Penulisan manuskrip buku ilmiah pada tahun 2018 direncanakan tentang temulawak, menyampaikan informasi tanaman secara komprehensif.

Pada hari kedua, Seminar ini juga beruntung dapat dihadiri oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosemetik dan Produk Komplemen, Badan POM (Drs. Ondri Dwi Samurno, MSi, Apt.) yang menyampaikan berbagai kebijakan dan dukungan terhadap pengembangan jamu dan obat berasal dari alam, perkembangan fitofarmaka, proses pengawasan dan pembinaan industri obat. Beliau menginformasikan bahwa saat ini ari berbagai obat bahan alam, sudah ada 18 produk obat bersertifikat fitofarmaka, dan 64 produk bersertifikat obat herbal terstandar, ini suatu perkembangan yang menggembirakan.

Selanjutnya sebagian peserta SemNas juga mengikuti acara kunjungan lapang ke Balai Materia Medika (Batu), serta eco-green park di Malang. Melalui forum pertemuan Kerjasamama IPTEK tumbuhan obat dan jamu ini mampu meningkatkan pertukaran informasi pengetahuan tentang perkembangan teknologi dan hasil riset pemanfaatan tumbuhan untuk pengobatan dan pencegahan penyakit, serta pengembangan obat tradisional dan jamu.

Related News