TANGGAL
23 June 2017
M
S
S
R
K
J
S
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
pmb onlinePaJaLePortal Multimediabmkg
WEBMAIL
AGENDA
  • [01-10-2016 - 01-10-2016] Konsinyasi BMN
  • [05-10-2016 - 05-10-2016] Sosialisasi Pelayanan Publik STPP Bogor
  • [06-10-2016 - 07-10-2016] Final Lomba Website Lingkup BPPSDMP
SOCIAL MEDIA


RADIO ONLINE
Get the Flash Player to hear this stream.

Pengelolaan dan Pemanfaatan Jerami

Tanggal : 12-08-2015 13:48, dibaca 1042 kali.

Pengelolaan dan Pemanfaatan Jerami Padi

Keberadaan jerami padi di masyarakat awan dan masyarakat petani belum dinilai sebagai produk yang memiliki nilai ekonomis. Jerami dianggap sebagai sampah atau limbah yang mengganggu pada saat pengolahan lahan dan penanaman padi selanjutnya. Jerami kebanyakan hanya dionggokkan di pinggir petakan sawah, kemudian membakarnya. Tujuan utama petani membakar jerami tersebut adalah menyingkirkan jerami dari petakan sawah secara praktis. Tanpa disadari, pembakaran jerami bertujuan untuk mengembalikan hara dari jerami ke tanah, mematikan hama yang tertinggal di jerami, mematikan patogen penyakit dan memusnahkan gulma. Namun, petani tidak memperhitungkan untung-rugi atas tindakan pembakaran jerami tersebut.

Tidak semua hama mati pada saat jerami dibakar, karena hama dewasa dapat berpindah tempat. Misalnya tikus akan masuk ke liang tanah dan beberapa jenis gulma tidak mati saat pembakaran, seperti rumput teki. Sebaliknya, parasit dan predator yang berfungsi sebagai musuh alami hama dan penyakit justru mati saat pembakaran jerami, sehingga malah merugikan karena mengganggu keseimbangan hayati. Dampak negatif lain akibat pembakaran antara lain:

  • Beberapa jenis hara juga hilang akibat suhu tinggi saat pembakaran jerami
  • Menyumbang gas buang karbondioksida (CO2), CO2 yang menjadi salah satu penyebab pemanasan global (Global warming)
  • Terbunuhnya mikroorganisme yang bermanfaat untuk kesuburan tanah, sehingga kesuburan tanah berkurang
  • Mempercepat kehilangan air

Biomassa Jerami Padi

Jerami merupakan bagian vegetatif dari tanaman padi (batang, daun, tangkai malai). Pada waktu tanaman dipanen, jerami adalah bagian tanaman yang tidak dipungut. Perbedaan bobot biomassa jerami dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:

  1. Rejim air

Perbedaan bobot jerami yang dihasilkan pada lahan kering (padi gogo) dan pada lahan sawah cukup besar. Bobot jerami padi gogo sekitar 3 ton/ha, sedangkan bobot jerami padi sawah sekitar 7,4 ton/ha. Nisbah gabah dan jerami dari varietas yang sama berkisar 2:3. Faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah ketersediaan air. Pada padi gogo, pengairan hanya bergantung pada hujan, adakalanya tanaman kekurangan air pada fase pertumbuhan tertentu. Tanaman yang kekurangan air pada fase vegetatif sangat berpengaruh pada bobot jerami, cenderung lebih rendah dibandingkan padi sawah yang memperoleh air secara optimal.

  1. Varietas tanaman

Produksi jerami akan berbeda antar varietas, meskipun ditanam pada kondisi rejim air, tanah dan musim yang sama. Hal ini berkaitan dengan sifat genetik varietas yang diekspresikan sebagai bentuk morfologi tanaman (tinggi tanaman, jumlah anakan, ketebalan batang, kerimbunan anakan), pola partisioning karbohidrat/biomas, dan lamanya fase tumbuh (umur tanaman). Varietas berbatang pendek dan anakan sedikit akan menghasilkan jerami lebih sedikit dibandingkan dengan varietas berbatang tinggi dan anakan banyak. Varietas berumur panjang (>5 bulan) menghasilkan jerami yang lebih berat dibandingkan dengan varietas berumur pendek/genjah, karena waktu untuk memproduksi biomassa tanaman lebih lama.

  1. Cara budidaya

Hasil gabah dan jerami dipengaruhi juga oleh cara budidayanya yaitu jarak tanam atau populasi tanaman, takaran pupuk, dan pemeliharaan tanaman untuk mencegah kehilangan biomas akibat serangan hama dan penyakit. Semakin baik penerapan cara/teknik budidaya yang tepat maka biomas jerami yang dihasilkan juga akan semakin besar.

  1. Kesuburan tanah

Pada lahan yang bermasalah, seperti pH rendah, kadar besi tinggi, Al tinggi, kahat hara makro (N, P, K, S) dan mikro (Cu, Zn) dan lapisan olah tanah dangkal, akan mengakibatkan pertumbuhan terhambat sehingga jumlah jerami yang dihasilkan juga relatif sedikit. Hasil jerami yang dihasilkan merupakan indikasi tingkat kesuburan tanah secara umum.

  1. Musim/iklim/ketinggian tempat

Hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya radiasi matahari selama pertumbuhan tanaman, yang bisa mempengaruhi kecepatan /laju fotosintesis dan akumulasi biomassa tanaman. Suhu udara tinggi pada malam hari berpengaruh pada respirasi tanaman, sehingga fotosintat yang dihasilkan berkurang dan selanjutnya mengakibatkan berkurangnya produksi gabah dan jerami. Suhu tinggi juga mempercepat peralihan fase vegetatif ke generatif, atau dengan kata lain memperpendek masa pertumbuhan. Akhirnya akan mengurangi produksi jerami.

 Pemanfaatan Jerami

Ada beberapa cara yang sudah dilakukan oleh masyarakat petani untuk memanfaatkan keberadaan jerami secara konvensional:

  • Jerami sebagai alas lantai kandang ternak

Petani menghamparkan jerami kering setebal 5-10 cm di kandang sapi/kerbau yang lantainya berupa tanah. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan bagi ternak dalam kandang. Di samping itu, campuran jerami, kotoran dan urine ternak setelah difermentasikan akan menghasilkan kompos yang cukup baik.

  • Jerami sebagai pakan ternak

Saat hijauan pakan ternak dan rumput tidak tersedia (musim kemarau), jerami biasanya digunakan juga sebagai pakan ternak. Jerami kering untuk pakan ternak sering dicampur dengan larutan garam dapur, larutan urea, atau dibasahi dengan larutan formulasi mikroba yang bermanfaat.

  • Jerami sebagai bahan bakar

Jerami dimanfaatkan sebagai bahan bakar tambahan dalam industri genting, bata dan gerabah. Selain itu, keluarga petani yang kurang mampu juga ada yang menggunakan jerami sebagai bahan bakar tungku untuk memasak. Dalam hal ini, jerami memiliki kelemahan seperti cepat habis terbakar, berasap, sisa pembakaran mudah terbang dan memerlukan penjagaan api terus-menerus.

  • Jerami sebagai atap

Sebelum tahun 1970-an, pada beberapa penduduk desa yang kurang mampu menggunakan jerami sebagai atap rumahnya. Keuntungan atap jerami adalah tidak menyerap panas, hangat di malam hari dan murah. Kerangka atap tidak harus kuat karena atap jerami lebih ringan. Atap jerami bertahan hingga 5-7 tahun, asalkan tidak terbakar. Selain itu, jerami juga dimanfaatkan sebagai atap di gubuk/saung di sawah, atau gudang penyimpan alat pertanian atau atap kandang ternak.

  • Jerami sebagai pelindung persemaian

Perlindungan terhadap persemaian dilakukan untuk menahan pukulan air hujan pada benih yang baru tumbuh dan melindungi bibit muda dari terpaan sinar matahari. Selain sebagai pelindung persemaian, jerami juga digunakan sebagai mulsa pada budidaya bawang merah. Tujuannya untuk mengurangi pukulan air hujan, mempertahankan kelembaban tanah dan mencegah pertumbuhan gulma, serta mencegah serangan hama lalat bibit.

 Potensi Pemanfaatan Jerami

  1. Sumber bahan organik dan pembenah tanah
  2. Bahan baku kompos
  3. Konservasi lahan
  4. Sumber pakan ternak
  5. Media jamur merang
  6. Retardan dan promotor jasad renik
  7. Bahan bakar dan biogas
  8. Bahan baku industri

 Dampak Salah Kelola Jerami Padi

Sebaiknya jerami tidak diberikan ke petakan lahan dalam bentuk segar, tapi dalam bentuk kompos. Oleh karena, jerami mengandung karbon dan nitrogen dengan C/N tinggi, maka pemberiannya pada lahan sawah menyebabkan N tanah terserap ke dalam jaringan jerami sebelum jerami dirombak oleh jasad renik dalam tanah. Hal ini menyebabkan kandungan hara tanah turun sehingga berpotensi kahat N. Semakin banyak jerami yang diberikan semakin parah tanaman kekurangan N.

Pemberian jerami langsung untuk pakan ternak kurang baik dari aspek kesehatan ternak, maupun peluang peningkatan emisi gas metan penyebab efek rumah kaca.

Pemberian jerami ke tanah yang berdrainase buruk menyebabkan perombakan jerami berlangsung secara anaerobik. Asam-asam organik yang terbentuk dari perombakan jasad renik menyebabkan tanah masam, kadar besi meningkat yang dapat menyebabkan keracunan besi.

Membakar jerami merupakan suatu cara membuang jerami yang banyak dilakukan. Bahayanya adalah mengakibatkan polusi asap ke udara yang membahayakan pernapasan, mata terasa pedih dan mengganggu lalu lintas, terutama lalu lintas darat dan udara. Keuntungannya bersifat individual yaitu membunuh hama dan penyakit yang tertinggal di jerami dan mempercepat persiapan lahan, hemat tenaga dan energi. Perubahan jerami menjadi abu berakibat kehilangan C, H, O, N, P dan K. Hara P dan K hilang masing-masing sebesar 10% dan 30%. Kandungan hara abu jerami sekitar 0.6% N, 0,09% P, dan 1,08%K, hampir sama (kecuali K) dengan sebelum pembakaran yaitu 0,6%N, 0,1%P dan 1,5%K, namun secara kuantitas terjadi penurunan akibat pembakaran C. Besarnya kehilangan hara sejalan dengan besarnya penurunan bobot bahan yang terbakar.

 Pengelolaan  jerami  secara bijaksana

Perlu solusi yang menguntungkan dan bijaksana dalam pengelolaan jerami yaitu dengan cara pemanfaatan jerami untuk berbagai aspek. Jerami padi perlu dimaknai sebagai produk panen dan merupakan pendapatan tambahan dari usahatani padi. Apabila petani telah mengetahui manfaat jerami, maka secara spontan akan meninggalkan cara-cara yang tidak terpuji seperti membakar jerami.

Untuk mengurangi terbentuknya emisi gas rumah kaca seperti CO2, CH2, N2O, maka pemberian jerami segar sebaiknya dihindarkan. Pemberian jerami sebelum tanam dimaksudkan sebagai sumber N susulan, karena hara N jerami baru terlepas setelah beberapa minggu setelah tanam. Pemberian jerami sebaiknya dalam bentuk kompos matang (C/N ratio <12). Selain itu jerami juga bisa diberikan sebagai mulsa pada tanaman di lahan kering, terutama untuk daerah-daerah kering karena dapat mengkonservasi kadar air tanah.

Dari aspek pengaturan, perlu dibuat ketentuan hukum tingkat Kabupaten dan Propinsi tentang pelarangan pembakaran jerami padi di lahan sawah. Ketentuan pemanfaatan jerami harus menekankan pada pengembalian bahan organik ke lahan semula guna memelihara kesuburan tanah. Kebijakan tentang pengembalian jerami ke lahan bisa dikaitkan dengan kemudahan untuk memperoleh kredit usahatani atau keringanan pajak.

Stop Bakar Jerami!!!

  

Sumber:

Makarim AK, Sumarno dan Suyamto. 2007. Jerami Padi: Pengelolaan dan Pemanfaatan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. Bogor. 58 hal.

 



Pengirim : Neni Musyarofah
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas