TANGGAL
16 January 2018
M
S
S
R
K
J
S
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Portal Multimediabmkge-Petanicyber_extension
WEBMAIL
AGENDA
  • [01-10-2016 - 01-10-2016] Konsinyasi BMN
  • [05-10-2016 - 05-10-2016] Sosialisasi Pelayanan Publik STPP Bogor
  • [06-10-2016 - 07-10-2016] Final Lomba Website Lingkup BPPSDMP
  • [04-01-2017 - 05-01-2017] Rakernas Pembangunan Pertanian 2017
  • [06-01-2017 - 06-01-2017] Koordinasi Tim Supervisi dan Pendampingan UPSUS
  • [10-01-2017 - 10-01-2017] Rapat Fasilitas Senat STPP Bogor
  • [10-01-2017 - 13-01-2017] Supervisi Pajale dan Siwab
  • [10-01-2017 - 13-01-2017] Supervisi Pajale dan Siwab
  • [17-01-2017 - 17-01-2017] Rapim BBPSDMP
  • [18-01-2017 - 19-01-2017] Koordinasi Pelaksanaan Supervisi
  • [20-01-2017 - 21-01-2017] Mengikuti Kunjungan Mentan
  • [25-01-2017 - 27-01-2017] Koordinasi Kegiatan Pendidikan Tinggi 2017
  • [30-01-2017 - 30-11--0001] Pelantikan Pimpinan Tinggi Madya
  • [31-01-2017 - 31-01-2017] Workshop Kom. Publik & Transformasi Kelembagaan
  • [01-02-2017 - 01-02-2017] Rapim B
  • [02-02-2017 - 02-02-2017] Rapat Pajale
  • [03-02-2017 - 04-02-2017] Koordinasi UPSUS PAJALE
  • [06-02-2017 - 06-02-2017] Serah Terima Ketua Jurusan Penyuluhan Peternakan
  • [07-02-2017 - 10-02-2017] Supervisi Pajale dan Siwab
  • [10-02-2017 - 11-02-2017] Penyusunan Rencana Pembelajaran
  • [14-02-2017 - 14-02-2017] Koordinasi Pendidikan di BPPSDMP
  • [16-02-2017 - 16-02-2017] Penyusunan Standar Biaya Keluaran
  • [17-02-2017 - 18-02-2017] RAPIM BPPSDMP
  • [10-02-2017 - 10-02-2017] Rapat Fasilitas Senat STPP Bogor
  • [21-02-2017 - 30-11--0001] Monitoring Kegiatan
  • [22-02-2017 - 22-02-2017] Konsolidasi UPSUS Provinsi Jawa Barat
  • [23-02-2017 - 24-02-2017] Panen dengan Bupati Ciamis
  • [25-02-2017 - 26-02-2017] Koordinasi dengan Makodam III Siliwangi
  • [27-02-2017 - 28-02-2017] Rapat UPSUS SIWAB
  • [01-03-2017 - 01-03-2017] Undangan FGD
  • [02-03-2017 - 02-03-2017] Pelatihan dan Pertemuan 3 Pos Daya
  • [03-03-2017 - 05-03-2017] Rapat Koordinasi Program Pendampingan
  • [06-03-2017 - 06-03-2017] Rapat Teknis Pelibatan Taruna STPP
  • [07-03-2017 - 10-03-2017] Koordinasi Ke Dinas Tanaman Pangan
  • [11-03-2017 - 13-03-2017] Rapat Kerja Perhiptani
  • [14-03-2017 - 14-03-2017] Pisah Sambut Kepala Balai Pelatihan Keswan
  • [17-03-2017 - 17-03-2017] Tindak lanjut Rapat Kerja Perhiptani
  • [21-03-2017 - 22-03-2017] Audiensi Transformasi Pendidikan
  • [23-03-2017 - 23-03-2017] Rapat Persiapan Seminar
  • [29-03-2017 - 31-03-2017] Koordinasi Luas Tambah Tanam
  • [01-04-2017 - 01-04-2017] Training Of Master UPSUS
  • [03-04-2017 - 05-04-2017] Forum UPT
  • [06-04-2017 - 30-11--0001] Pembukaan Sekolah lapang
  • [07-04-2017 - 07-04-2017] Koordinasi dengan Ditjen
  • [10-04-2017 - 10-04-2017] Persiapan Rencana Seminar Perhiptani
  • [11-04-2017 - 12-04-2017] Konsolidasi UPSUS Provinsi Jawa Barat
  • [13-04-2017 - 14-04-2017] Kegiatan Pendampingan Mahasiswa
  • [17-04-2017 - 17-04-2017] Training Of Trainer
  • [18-04-2017 - 18-04-2017] Seminar Penyuluh Pertanian
  • [19-04-2017 - 20-04-2017] Bimtek
  • [21-04-2017 - 21-04-2017] Rapat Persiapan Pembukaan Penas
  • [25-04-2017 - 25-04-2017] Pembukaan Bimtek
  • [26-04-2017 - 26-04-2017] Rapat Persiapan Penas Aceh
  • [27-04-2017 - 27-04-2017] Koordinasi dengan Sesba
  • [28-04-2017 - 28-04-2017] Koordinasi dengan Biro OK
  • [02-05-2017 - 03-05-2017] Rapat Koordinasi UPSUS Pajale
  • [04-05-2017 - 08-05-2017] PENAS ACEH
  • [09-05-2017 - 11-05-2017] Koordinasi Kerjasama Pendidikan
  • [12-05-2017 - 12-05-2017] Rapat Senat
  • [15-05-2017 - 17-05-2017] Workshop PD DIKTI
  • [18-05-2017 - 18-05-2017] Seminar Perhiptani
  • [21-05-2017 - 23-05-2017] Bimtek Dosen dan Pengelola Vokasi
  • [19-05-2017 - 19-05-2017] Konsultasi Pendidikan
  • [23-05-2017 - 26-05-2017] Supervisi KIPA dan Monev
  • [29-05-2017 - 29-05-2017] Rapat MoU
  • [30-06-2017 - 30-06-2017] Rapat Musrengbantan
  • [01-06-2017 - 01-06-2017] UPACARA HARI PANCASILA
  • [02-06-2017 - 02-06-2017] Pertemuan dengan Menteri
  • [05-06-2017 - 05-06-2017] Penyerahan OINI WTP
  • [06-06-2017 - 06-06-2017] International Workshop
  • [12-06-2017 - 12-06-2017] Nomenklatur
  • [13-05-2017 - 13-06-2017] Rapim B
  • [14-06-2017 - 14-06-2017] Konsolidasi UPSUS PAJALE Jawa Barat
  • [15-06-2017 - 15-06-2017] Monitoring Kampus Jurluhnak
  • [19-06-2017 - 19-06-2017] Kordinasi MoU dengan Kemen PUPR
  • [21-06-2017 - 21-06-2017] UPACARA HARI KRIDA PERTANIAN
  • [03-07-2017 - 30-11--0001] Halal bi Halal
  • [04-07-2017 - 04-07-2017] Halal bi Halal dan Rapat di jakarta
  • [07-07-2017 - 07-07-2017] Rapim BBPSDMP
SOCIAL MEDIA


RADIO ONLINE
Get the Flash Player to hear this stream.
LINK TERKAIT
Instansi Pemerintah
Organisasi Non Pemerintah
Lembaga Pendidikan
Lembaga Pelatihan
Lembaga Penelitian
Mitra STPP Bogor
Umum
Sistem Manajemen Informasi Kementan

Material Balance

Tanggal : 19-09-2017 11:21, dibaca 118 kali.
  1. I.   PENDAHULUAN

 

  1. A.   Latar Belakang

Dalam pelaksanaan pembangunan pertanian, seharusnya bukan hanya memperhatikan aspek produksi (teknis) dan keuntungan ekonomi,  akan tetapi juga memperhatikan kelayakan lingkungan melalui pendekatan pembangunan pertanian berkelanjutan (sustainable agricultural development).  Pendekatan ini perlu dalam proses produksi, penanganan pascapanen maupun pengolahan produk pertanian menjadi barang konsumsi akan selalu  terkait dengan kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam, dan dalam prosesnya dihasilkan limbah. Bila pengelolaannya tidak dilakukan dengan ramah lingkungan, maka bisa menimbulkan eksternalitas pada masyarakat dan kerusakan sumberdaya alam.  Dampak akhirnya, kualitas lingkungan semakin menurun, yang mengancam kehidupan manusia dan makhluk hidup.

Pembangunan pertanian yang sifatnya erat dengan eksplotasi semberdaya alam, sudah seharusnya dilakukan dengan mempertimbangkan kelayakan teknis, ekonomis dan lingkungan, sehingga kegiatan tidak menimbulkan  eksternalitas (biaya-biaya eksternal) yang merugian masyarakat, tidak menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan dan tidak dapat dikompensesikan oleh masyarakat atas pencemaran, rusaknya dan menurunnya kondisi lingkungan.

Fenomena dalam pengolahan padi di Penggilingan Padi Kecil (PPK) tingkat petani banyak yang dilakukan dengan mengabaikan keseimbangan bahan (material balance), efisiensi masih rendah, belum optimal dalam pemanfaatan hasil sampingan (by product), serta menghasilkan limbah yang tidak dikelola dengan baik. Dengan demikiian kegiatan yang berwawasan lingkungan serta efisiensi tinggi dalam proses pengolahan padi sering terabaikan.  Penelitian ini dilakukan untuk pengkajian keadaan keseimbangan bahan  dan efisiensi proses pengolahan padi pada Penggilingan Padi Kecil di beberapa kecamatan sentra produksi beras di kabupaten Bogor.

  1. B.   Tujuan Penelitian
    1. Mengidentifikasi dan menganalisis kondisi dan karakteristik Penggilingan Padi Kecil  (PPK) tingkat petani di lokasi peneliitian, termasuk kondisi lingkungan dan upaya penanganan limbahnya.
    2. Mempelajari dan membandingkan keadaan keseimbangan bahan (material balance) dan tingkat efisiensi pada proses pengolahan padi pada Penggilingan Padi Kecil (PPK) di lokasi penelitian.

 

  1. C.   Permasalahan
    1. Proses pengolahan padi menjadi beras pada PPK, banyak yang dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek kelayakan lingkungan dan keseimbangan bahan sehingga menimbulkan masalah lingkungan, merugikan pengelola/ pekerja dan eksternalitas pada masyarakat.
    2. Tingkat efisiensi proses pengolahan padi pada PPK yang rendah menyebabkan  tingginya kehilangan hasil (losses) dan menghasilkan limbah yang tidak ditangani secara baik, sehingga merugikan petani secara ekonomi dan lingkungan.
    3. D.   Kerangka Pemikiran

Analisis keseimbangan bahan (material balance) atau neraca bahan dalam suatu proses pengolahan produk atau industri sangat terkait dengan tingkat efisiensi produksi, jumlah limbah dan hasil sampingan, pemanfaatan limbah dan hasil sampingan, serta pengelolaan lingkungan. Dengan mengetahui dan mengatur keseimbangan bahan dalam suatu proses pengolahan, akan mendukung pada upaya peningkatan produksi dan produktivitas, mewujudkan produksi bersih (cleaner production), pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan dan produksi yang berwawasan lingkungan.

Terjadi perbedaan keadaan keseimbangan bahan dan efisiensi produksi pada proses penggilingan padi di PPK, antara berbagai varietas padi, tingkat kekeringan gabah, jenis mesin dan cara penggilingan, serta lokasi PPK (kecamatan). Dalam pengelolaan PPK di Kabupaten Bogor, diduga bahwa tingkat efisiensinya masih rendah, jumlah hasil sampingan dan limbah tinggi dan belum dikelola secara baik, serta aspek lingkungan belum diperhatikan dan dikelola secara baik.  Hal ini terkait dengan tingkat penerapan teknologi budidaya, penanganan panen dan pascapanen. Masalah sosial budaya masyarakat dan keuntungan yang didapatkan oleh pengelola PPK juga sangat berpengaruh kepada keseimbangan bahan dan efisiensi produksi ini.

Oleh karena itu dalam penelitian ini dilakukan analisis terhadap keadaan keseimbangan bahan, efisiensi proses produksi dan pengelolaan limbah/sampah terkait dengan masalah lingkungan, dengan membandingkan kondisi antar varietas padi yang ada di lapangan dan perbandingan proses pengolahan antar lokasi (desa dan kecamatan). Dalam penelitian ini juga tercakup observasi dan telaahan tentang kondisi lingkungan pada PPK, yang selanjutnya dapat dirumuskan saran untuk perbaikan pengelolaan limbah/hasil sampingan, pengelolaan PPK  dan kondisi lingkungan. Diagram alir kerangkan fikir penelitian ini dikemukakan pada Gambar berikut.

 


 

 

 

 

  1. II.          
       
   
 
     


II. TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.   Keseimbangan Bahan

Keseimbangan bahan (material balance) adalah suatu teknik penghitungan untuk menelusuri input dan output dalam suatu proses produksi (dengan  menghitung keseluruhan aliran bahan sejak awal proses sampai akhir kegiatan),  untuk menemukan aliran elemen utama dalam proses dan mengamati interaksi antara manusia dan sistem alamnya. Menurut Davis dan   Masten  (2009), kegunaan dari pengukuran keseimbangan bahan adalah :

  1. Dapat melacak interaksi proses antara manusia dengan sistem alamnya.
  2. Menentukan efisiensi proses produksi dalam suatu kegiatan/industri pengolahan, sebagai dasar menghitung analisis ekonomi.
  3. Menghitung jenis dan jumlah limbah dari suatu proses produksi pengolahan,
  4. Menentukun langkah-langkah dan kegiatan untuk pemanfaatan limbah dan sampah dari suatu proses produksi pengolahan hasil

Dalam konsep keseimbangan bahan, dijelaskan bahwa 1) Penggunaan teknologi dan energi sangat mempengaruhi pada siklus keseimbangan bahan. Dengan teknologi yang efisien akan dapat menghasilkan produk dengan kualitas dan kuantitas tinggi, serta sedikit menghasilkan limbah, 2) Dengan adanya  masukan energi akan dapat menggerakkan proses transformasi bahan menjadi produk, akan tetapi proses itu sendiri akan menghasilkan limbah, 3) Limbah dari suatu proses produksi dapat digunakan atau diolah kembali (proses daur ulang) menjadi bahan baku, terdekomposisi menjadi bahan tidak berbagaya di alam, atau terakumulasi dalam alam (Anderson, 2010).  Secara skematik siklus keseimbangan bahan dalam proses produksi dikemukakan pada Gambar 2.

 

Gambar 2.  Proses Siklus Keseimbangan Bahan dalam Proses Produksi

Dengan model Keseimbangan Bahan Hasil Pertanian dapat diterangkan, ditelusuri dan diidentifikasi aliran bahan yang terjadi melalui suatu proses produksi, mulai dari bahan baku yang masuk, proses pengolahan, hasil yang diharapkan, hasil sampingan dan limbahnya. Perinsipnya melalui model Keseimbangan Bahan akan dicari tingkat produktifitas suatu produksi, seraya menelusuri jumlah materi lainnya yang tidak termanfaatkan/terasimilasi dari proses produksi.

Dalam industri pengolahan hasil pertanian umumnya dihasilkan banyak limbah, terutama limbah organik. Limbah ini telah dihasilkan mulai dari saat panen, penanganan pascapanen, transportasi, pengolahan dan penjualan, karena biasanya mudah rusak dan busuk, bentuk dan ukuran tidak seragam. Meskipun limbah ini mudah didegrasi oleh mikoorganisme sehingga mudah dikembalikan ke alam, namun bila tidak ditangani dengan baik dan melampaui kapasitas asimilasi alam, maka akan menjadi masalah besar, menimbulkan pencemaran, menurunkan kualitas lingkungan (Mitchell,  Setiawan dan. Rahmi.  2003). Hubungan keseimbangan bahan dalam proses produksi dengan biaya eksternal dikemukakan pada Gabar 3 berikut.

 

 

Gambar 3. Hubungan Keseimbangan Bahan dalam Proses Produksi dengan Biaya Eksternal

 

Pada perinsipnya, dalam proses pengolahan hasil dan pengkajian keseimbangan bahan, dinyatakan bahwa jumlah bahan yang dihasilkan dan dikembalikan ke lingkungan mendekati atau sama dengan bahan yang masuk (inputs). Limbah dan bahan baku yang berlebih dari hasil proses produksi yag dibuang ke lingkungan akan menghasilkan biaya-biaya eksternal, yang akhirnya merugikan manusia (Masters, dan Ella, 2005). Indrasti dan Fauzi. (2009) mengemukakan bahwa Produksi bersih (Cleaner Production) sebagai alternatif stretegi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu untuk mengurangi jumlah limbah dan sampah dalam proses produksi. Tujuannnya; meningkatkan produktifitas, efisiensi penggunaan bahan mentah dan energi, mendorong performan lingkungan, mereduksi dampak negatif pada lingkungan.

Dalam memahami dan menerapkan model Keseimbangan Bahan Hasil Pertanian, maka proses-proses yang terjadi harus diketahui secara rinci dan dapat dikaitkan dengan kondisi lingkungan atau ekosistem.  Minimisasi limbah merupakan kegiatan pencegahan dan pengurangan bahan untuk meningkatkan kualitas limbah akhir dari berbagai proses sampai ke pembuangan akhir, diantaranya dilakukan dengan engurangi bahan baku yang akan menjadi limbah (Fauzi, 2004).

  1. B.   Pascapanen dan Pengolahan Padi

Pasacapanen padi adalah tahap kegiatan yang meliputi; pemanenan, perontokan, pengangkutan, pengeringan, penyimpanan, penggilingan sapai beras siap dipasarkan. Tujuan penanganan pascapanen padi adalah untuk mengurangi terjadinya susut hasil, menekan tingkat kerusakan, meningkatkan daya simpan dan dayaguna komoditas pertanian agar menunjang usaha penyediaan bahan baku industri, meningkatkan nilai tambah, kesempatan kerja dan melestarikan sumberdaya alam.

Pengolahan padi (gabah) menjadi beras dilakukan melalui proses penggilingan, yaitu proses pemisahan sekam dan kulit luar kariopsis dari biji padi agar diperoleh beras yang dapat dikonsumsi. Terdapat berbagai jenis teknologi/alat yaitu penumbukan (lesung/kincir air), penggilingan tipe Engelberg, Small Rice Milling Unit (S-RMU) atau Penggilingan Padi Kecil (PPK) maupun penggilingan padi besar.Rice milling unit (RMU) yang merupakan jenis mesin penggilingan padi generasi baru yang kompak dan mudah dioperasikan, dimana proses pengolahan gabah menjadi beras dapat dilakukan dalam satu kali proses (one pass process).

Rendemen proses penggilingan sangat tergantung pada bahan baku, varietas, derajat masak padi, cara perawatan gabah dan konfigurasi penggilingan. Rendemen pecah kulit yang ideal adalah 75-79% dan rendemen giling ideal adalah 68-73%. Konfigurasi mesin terdiri dari husker (pemecah kulit), polisher (penyosoh) dan refiner (pemoles). Susut yang terjadi pada tahap penggilingan umumnya disebabkan oleh penyetelan blower penghisap, penghembus sekam dan bekatul. Penyetelan tidak pas menyebabkan banyak gabah yang terlempar ke dalam sekam, atau beras yang terbawa ke dalam dedak. Susut hasil di penggilingan di agroekosistem padi lahan irigasi sebesar 2,16 %, pada agroekosistem tadah hujan 2,35% dan agroekosistem pasang surut 2,60 % (Nugraha, 2012).

Dalam proses pengolahan padi menjadi beras dilakukan melalui beberapa tahapan pengolahan, yaitu 1) Pengeringan gabah kering panen (GKP) yang masih mempunyai kadar air 20-25% menjadi gabah kering giling (GKG) dengan kadar air sekitar 14%, 2) Proses pecah kulit (husking), 3) Proses penyosohan (polishing),  dan 3) Pemisahan/pembersihan beras. Dalam proses ini juga terdapat hasil sampingan (by product) dan limbah. Mengacu kepada laporan BB Litbang Pascapanen Pertanian (2013), secara umum hasil dari setiap tahapan proses pengolahan padi dikemukakan pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Proporsi Hasil Pengolahan Gabah Menjadi Padi

No

Produk

Persentase

1

GKG (Kadar Air 14%)

100

2

Beras

57 – 60

3

Sekam

20 – 22

4

Dedak

8 – 10

5

Beras Slip

54  -57

6

Beras Kepala

50

7

Beras Patah

2,5

8

Menir

2,5

 

Produk utama yang dihasilkan dari gabah adalah berupa beras dengan persentase sampai 60% sementara sisanya yaitu 40% adalah limbah yang terdiri dari dedak dan Sekam. Limbah tersebut dapat diolah lebih lanjut sehingga tidak menyebabkan terjadinya penumpukan limbah tetapi dapat memberikan nilai samping sehingga memberikan manfaat dalam peningkatan keuntungan dari produk gabah, sehingga mempunyai nilai ekonomi.

Rahmat, dkk (2015) mengemukakan bahwa pada PPK umumnya pemanfaatan hasil samping (dedak/bekatul dan menir) dan limbah (sekam) kurang diperhatikan. Bila ini dapat dimanfaatkan atau dilakukan kegiatan usaha terpadu akan dapat meninkatkan nilai tambah, mengurangi sampah dan permaslahan lingkungan. Sekam dapat digunakan sebagai kompor sekam, tungku sekam, arang sekam, briket arang sekam (dengan penambahan lumpur atau pati ubi kayu/aci, dan dipadatkan).

  1. C.   Penggilingan Padi

Jumlah penggilingan padi (PP) di Indonesia pada tahun 2009 sebanyak 108.512 unit, terdiri dari 5133 unit PP besar, 39425 unit PP Kecil, 35093 unit RMU, 1630 unit engelberg, 14153 unit mesin huller dan 13178 unit mesin penyosoh beras. Kebanyakan penggilingan padi saat ini tidak dirancang dan dioperasikan dengan pendekatan sistem terpadu, teknologi penggilingan yang digunakan umumnya masih sederhana dengan konfigurasi mesin terdiri dari husker (pemecah kulit) dan polisher (penyosoh), sudah berumur tua dan belum mempunyai jaringan pemasaran yang luas. Besarnya tingkat kehilangan hasil panen dan pascapanen padi pada tahun 2008 sebesar 10,82 persen. Kehilangan hasil di penggilingan padi dari survei Ditjen PPHP di Jawa Barat pada tahun 2010 sebesar 1,69 persen (Rahmat, dkk, 2015).

Pada tahun 2012, di kabuaten Bogor terdapat 1918 unit penggilingan padi, tersebar di 40 kecamatan. Dari jumlah tersebut, 1775 unit diantaranya mempunyai mesin penyosoh (polisher), sementara sisanya sebanyak 223 unit hanya mempunyai mesin pecah kulit (husker). Umumnya merupakan Penggilingan Padi Kecil (PPK), sementara penggilingan padi menengah hanya ditemui di kecamatan Ciomas dan kecamatan Dramaga (Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bogor, 2015). Data detail sebaran penggilingan padi di Kabupaten Bogor pada tahun 2012 dikemukakan pada Lampiran 1.

Dari data Dinas Pertanian Kabupaten Bogor (2012), jumlah penggilingan padi di Kecamatan Cibungbulang sebanyak 50 unit, Kecamatan Ciampea sebanyak 23 unit (dua diantaranya Pengglingan Padi Menengah/PPM) dan Kecamatan Ciomas sebanyak 11 unit. Gambaran umum keadaan penggilingan padi di tiga kecamatan lokasi pelaksanaan penelitian dikemukakan pada Lampiran 2.


  1. III.          METODE PENELITIAN
  2. A.   Tempat dan Waktu Penelitian
    1. Penelitian ini hanya mencakup komoditas padi yang dihasilkan oleh petani, sasaran objek penelitian adalah Penggilingan Padi Kecil (PPK) yang berada di sentra produksi padi utama di kecamatan Ciomas, Ciampea dan Cibungbulang, di wilayah Kabupaten Bogor.
    2. Pengukuran dan penghitungan beberapa parameter, dan percobaan sebagai pembanding dilakukan di kampus STPP Bogor, Cibalagung,
    3. Penelitian dilaksanakan selama 6 (enem) bulan, yaitu pada bulan Juli sampai Desember 2016. 
    4. B.   Prosedur Penelitian
  3. 1.    Populasi dan Sampling

Pemilihan kecamatan dan desa objek penelitian dilakukan melalui pendekatan purposive sampling sedangkan untuk pemilihan PPK di setiap desa sebagai lokasi pelaksanaan ujicoba penggilingan padi untuk percobaan menghitung keseimbangan bahan dan efisiensi produksi dilakukan melalui pendekatan random sampling.

1)    Dari data sentra produksi padi utama dan data sebaran penggilingan padi didapatkan dari Dinas Pertanian Kabupaten Bogor, dilakukan pemilihan dan penetapan kecamatan sebagai lokasi penelitian. Daerah penghasil padi utama di Bogor adalah, Ciomas, Dramaga, Ciampea, Cibungbulang dan Cibungbulang. Setelah dilakukan pengumpulan data dan dinformasi awal maka lokasi kecamatan Dramaga tidak bisa dipilih karena hanya ada satu PPK, sementara yang lainnya merupakan penggilingan sedang dan besar.  Lokasi kecamatan Cigudeg dikeluarkan karena karena desa sentra utama produksi jauh dari ibu kota kecamatan Cigudeg dengan kondisi infrastruktur jalan kurang baik. Berdasarkan hal tersebut maka lokasi penelitian terpilih adalah kecamatan Ciomas, Ciampea dan Cibungbulang.

2)    Penetapan dua desa tempat penelitian pada setiap kecamatan terpilih dilakukan berdasarkan daerah dengan areal sawah terluas, dan mempertimbangkan masalah lapangan (tingkat konversi lahan, pengalihan ke komoditas non-padi, keterbatasan sarana irigasi, dll).

Dalam Pemilihan dan penetapan desa lokasi penelitian dilakukan melalui diskusi bersama BP3K kecamatan dan Kepala UPT Pertanian Kecamatan bersangkutan, yaitu untuk memilih secara purposive dua desa sentra utama produksi padi.

3)    Melakukan identifikasi, pendataan dan survei terhadap semua PPK yang ada di desa terpilih (mencocokan dengan data yang ada, alamat dan lokasi, keberadaan dan kondisi PPK, manajemen dan operasional, permasalahan, dll).  Mencocokkan data data dan informasi penggilingan padi dari kabupaten, melakukan identifikasi PPK yang ada di desa terpilih (dengan mengabaikan atau mengeluarkan penggilingan padi yang sudah tidak aktif dan penggilingan besar),

Berdasarkan hasil observasi pendataan penggilingan padi di dua desa terpilih pada setiap kecamatan, maka data dan informasi keadaan penggilingan padi dikemukakan pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Perbandingan Jumlah PPK di Lokasi Penelitian pada Tahun 2012 dan Kondisi Sekarang.

No

Kecamatan dan Desa

Jumlah PPK

Tahun 2012

Jumlah PPK

Sekarang

Keterangan

A

Kecamatan Ciomas

1

Parakan

7 Unit

3 Unit

Berdekatan

2

Laladon

2 Unit

1 Unit

 

B

Kecamatan Ciampea

3

Ciampea Udik

6 Unit

4 Unit

 

4

Cinangka

3 Unit

2 Unit

 

C

Kecamatan Cibungbulang

5

Situ Udik

13 Unit

8 Unit

+ Satu baru

6

Situ Ilir

5 Unit

2 Unit

 

 

4)    Pemilihan dan penetapan  PPK sebagai objek ujicoba penggilingan padi untuk menghitung keseimbangan bahan dan efisiensi produksi. Pemilihan dilakukan secara random sampling terhadap PPK yang masih ada dan masih beroperasi di suatu desa (pemilihan 1 PPK di setiap desa terpilih, sehingga jumlah PPK untuk uji coba sebanyak 6 unit). Hasil random sampling untuk pemilihan PPK dan lokasinya sebagai objek penelitian sebagaimana pada Tabel 3 berikut.

            Tabel 3. Hasil Pemilihan PPK sebagai Lokasi dan Objek Penelitian.

No

Kecamatan

Desa (Dusun)

Pemilik PPK

1

Ciomas

Parakan (Silih Asih)

H. Ade Mulyana

2

 

Laladon (Pr Matahari Persada)

Ukar

3

Ciampea

Ciampea Udik (Kebon Kopi)

H. Nurhaidi

4

 

Cinangka (Cinangka Landeuh)

Oding

5

Cibungbulang

Situ Udk (Barokah)

H. Lamsuni

6

 

Situ Ilir (Gunung Handeuleum)

Adung Mansyur

Catatan : Untuk mendapatkan informasi tambahan (data primer), maka ujicoba penghitungan keseimbangan bahan juga dilakukan di Penggilingan Padi milik STPP Bogor di Kampus Cibalagung

 

  1. 2.    Teknik Pengumpulan Data dan Informasi

Pengumpulan data primer dilakukan melalui:

1)    Diskusi dan pengumpulan data sekunder dari; Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bogor, BP5K Kabupaten Bogor, BP3K Cibungbulang, BP3K Dramaga, UPT Pertanian Cibungbulang

2)    Pendataan dan survei lapangan terhadap PPK di lokasi penelitian sesuai dengan karakteristik (antara lain; keadaan bangunan, jenis mesin dan peralatan, penggunaan bahan, serta tata letaknya).

3)    Wawancara dan diskusi dengan pemilik/pengelola PPK, mencakup aspek; kondisi dan sejarah, tenaga kerja, proses produksi, bahan baku, hasil dan limbah, dll.

4)    Melakukan ujicoba penghitungan keseimbangan bahan dan efisiensi proses pengolahan padi (2 PPK terpilih di setiap kecamatan), kegiatan mencakup; a) Pengadaan GKP dan GKG, b) Pengeringan GKP c) Pengolahan padi menjadi beras pecah kulit (husking), d) Pengolahan menjadi beras sosoh (polishing), e) Sortasi hasil. Untuk setiap lokasi ujicoba dilakukan sebanyak dua kali (duplo)

Pengumpulan Data sekunder dilakukan melalui; a) Studi literatur dari berbagai buku dan text book proses pengolahan padi, keseimbangan bahan (material balance), efisiensi dan kehilangan hasil (losses), b) Mempelajari laporan kegiatan, hasil penelitian dari berbagai institusi terkait.

  1. 3.    Parameter dan Kisi-kisi Instrumen

Parameter/ variabel dan kisi-kisi pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

1)    Keadaan PPK, meliputi; sejarah, karakteristik, performan, bangunan dan fasilitas,  bahan bakar, tenaga kerja, dan manajemen usaha, keseimbangan bahan secara umum, serta masalah dan hambatan.

2)    Bahan baku; jenis, varietas, sumber/asal bahan baku padi yang digiling, karakteristik bahan baku.

3)    Tingkat kekeringan atau kadar air dari GKP, GKG, dan beras hasil proses penggilingan.

4)    Hasil dan tingkat efisiensi proses penggilinggan padi (berat dan persen)

5)    Jenis dan jumlah (berat) hasil sampingan dan limbah.

6)    Keadaan dan pengelolaan lingkungan; jumlah dan jenis hasil sampingan dan limbah, penggunaan hasil sampingan dan limbah, sanitasi lingkungan, kebisingan, debu, penerangan, dll.

  1. C.   Teknik Analisis Data
  1. Data dari hasil wawancara dan perhitungan lapangan dilakukan pemilahan dan tabulasi sesuai karakteristiknya. Dilakukan pengkodean lokasi dan objek penelitian untuk memudahkan tabulasi dan pengolahan data, sebagaimana Tabel 4 berikut.

Tabel. 4 Pengkodean Objek PPK dan Varietas Padi pada Penelitian

No

PPK

Ulangan

Kode

Varietas

1

Ade Mulyana

I

KSAPC-1

Ciherang

2

 

2

KSAPC-2

Ciherang

3

Ukar

1

PMPLC-1

Cidenok

4

 

2

PMPLC-2

Cidenok

5

H. Nurhaidi

1

BSUCB-1

Ciherang

6

 

2

BSUCB-2

Cibogo

7

Oding

1

GHSIC-1

Ciherang

8

 

2

GHSIC-1

Ciherang

9

H. Lamsuni

1

KKCUC-1

Ciherang

10

 

2

KKCUC-2

Impari-31

11

Adung Mansyur

1

KLDCC-1

Ciherang

12

 

2

KLDCC-2

Ciherang

13

STPP Bogor

1

STPPC-1

Ciherang

14

 

2

STPPC-2

Ciherang

 

  1. Dilakukan konversi data untuk menyamakan satuan, sehingga dapat dilakukan pengolahan dan analisis (dari berat ke persen)
  2. Pengolahan dan analisis perbandingan antar varietas dan lokasi dilakukan dengan software SPSS-20.
  1. D.   Hipotesis Statistik
  2. Terjadi perbedaan keseimbangan bahan dan efisiensi produksi pengolahan padi antar varietas dan antar lokasi PPK (antar kecamatan).
  3. Sampah dan limbah penggilingan padi pada PPK belum dikelola baik.

 


  1. IV.         HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.   Gambaran Lokasi Penelitian
    1. 1.    Kecamatan Ciomas

Sentra produksi padi utama di Kecaatan Ciomas (luas areal baku sawah terbesar) adalah di desa Parakan, Sukaharja dan Laladon. Data areal sawah terluas dan penggilingan padi kecil (PPK) di ketiga desa di kecamatan Ciomas dikemukanan pada Tabel 5 berikut.

Tabel 5.  Keadaan luas lahan dan penggilingan padi pada lokasi Penelitian di Kecamatan Ciomas

No

Desa

Areal Sawah

PPK

Keterangan

1

Parakan

96,62 Ha

3 Unit

Sebelumnya ada 7 PPK,  yang 4 sudah tidak aktif

2

Sukaharja

95,00 Ha

1 Unit

Lahan sawah banyak alih komoditas menjadi non-padi

3

Laladon

36,20 Ha

1 Unit

Sebelumnya 2 PPK, lahan sawah banyak alih fungsi jadi perumahan dan utilitas.

 

Jumlah PPK semakin menurun, dan tidak ada penambahan atau penggantian baru, disamping kesulitan regenerasi pengelola PPK karena tidak tertarik dengan usaha ini.. Umumnya pengelola PPK mempunyai pekerjaan lain, seperti pedagang, buka warung, petani, usaha jasa, dll. Gambaran umum keadaan PPK yang menjadi objek penelitian dikemukakan pada Lampiran 3.

 Permasalahan yang dihadapi oleh pengelola PPK adalah; 1) Kekurangan pasokan padi untuk digiling karena areal sawah semakin sedikit (konversi lahan sawah) dan produktuvitas rendah, sudah tidak ada musim panen raya, 2) beberapa jalan menuju lokasi PPK sempit (tidak bisa dilewati mobil) sehingga menyulitkan dalam mengambil dan mebawa produk (menggunakan jalan perumahan perorangan), 3) Sulit mencari BBM solar karena dijatah oleh SPBU dan tidak boleh membeli pakai jerigen (hanya plastik 25 liter), 4) mesin sudah tua sehingga sering rewel/mogok, tidak ada upaya untuk mengganti (kekurangan modal investasi), 5) Keterbatasan lahan dan ruangan, sebagian tidak mempunyai lantai jemur. 6) Penetaan dan pemanfaatan ruangan belum baik tanpa memperhatikan aspek kesehatan dan kenyamanan.

 

 

  1. 2.    Kecamatan Ciampea

Sentra produksi padi utama di Kecaatan Ciampea terdapat di Desa Cinangka (areal sawah terbesar yaitu 221 Ha) dan desa Ciampea Udik (areal sawah seluas 179 Ha, terluas ke empat). Desa selain Ciampea Udik dengan areal sawahnya lebih luas adalah; desa Cibuntu (202 Ha), Cicadas (200 Ha), Tegal Waru (198 Ha) dan Cihideung Udik (185 Ha). Akan tetapi pada desa-desa ini areal sawahnya sudah tidak banyak lagi digunakan untuk pertanaman padi, karena alih komoditas ke sayuran dan umbi, disamping air irigasi semakin terbatas, sehingga PPK banyak yang sudah tidak jalan. Keadaan luas lahan dan penggilingan padi di Kecamatan Ciampea sebagaimana Tabel 6 berikut;

Tabel 6.  Keadaan luas lahan dan Penggilingan Padi di Kecamatan Ciampea

No

Desa

Areal Sawah *)

Jumlah PPK**)

Keterangan

1

Benteng

19 Ha

0 Unit

 

2

Ciampea

48 Ha

0 Unit

 

3

Bojong Rangkas

3 Ha

0 Unit

Sudah tidak potensial

4

Cibadak

4 Ha

0 Unit

Sudah tidak potensial

5

Cibanteng

53 Ha

0 Unit

 

6

Cihideung Ilir

97 Ha

4 Unit

 

7

Cihideung Udik

185 Ha

3 Unit

Terjadi alih komoditas

8

Cinangka

221 Ha

3 Unit

Lokasi Penelitian, PPK sekarang aktif 2 unit

9

Bojong Jengkol

142 Ha

0 Unit

 

10

Tegalwaru

198 Ha

6 Unit

Terjadi alih komoditas

11

Cicadas

200 Ha

0 Unit

Terjadi alih komoditas

12

Cibuntu

202 Ha

0 Unit

Terjadi alih komoditas

13

Ciampea Udik

179 Ha

7 Unit

Lokasi Penelitian, PPK sekarang aktif 5 unit

 

Total

1724 Ha

23 Unit

 

*) UPT Pertanian Wil Cibungbulang (2015).  **) Dinas Pertanian Kab. Bogor (2012)

 

Umumnya pengelola PPK di lokasi penelitian juga sebagai ketua kelomok tani atau Gapoktan, sebagian juga mendapat bantuan dari pemerintah, baik bangunan, mesin dan fasilitas lainnya. Pemilik sebagai petani dan juga punya usaha peternakan ayam milik keluarga.  Sumber gabah berasal dari masyarakat tani sekitar (sawah masih cukup luas), pda musim panen juga dibeli daerah lain seperti dari Banten dan Karawang (sudah punya jejaring komunikasi). Gabah setelah dikeringkan dapat disimpan di gudang sampai 2 bulan. Gambaran umum keadaan PPK yang menjadi objek penelitian dikemukakan pada Lampiran 4.

Beberapa permasalahan mendasar disini adalah: 1) Dalam operasional kekurangan modal untuk membeli gabah, sehingga tidak bisa melakukan stock padi dan tidak beroperasi penuh, 2) Kekurangan pasokan padi untuk digiling karena areal sawah semakin sedikit (konversi lahan sawah), 3) Banyak terjadi usaha pengambilan pasir (galian pasir) sehingga merusak aliran air dan mengurangi jumlah sawah, mengakibatkan jumlah padi disini juga seakin berkurang, 4) mesin sudah tua, tidak ada upaya untuk mengganti (kekurangan modal investasi) lebih mengandalkan pada bantuan pemerintah, 5) Kualitas gabah yang dibeli dari masyarakat sangat beragam, bahkan ada yang hampa dan masih hijau, sehingga mempengaruhi pada kualitas beras, dan harga

 

  1. 3.    Kecamatan Cibungbulang

Sentra produksi padi di Kecaatan Cibungbulang terdapat 12 desa sentra, namun yang utama adalah desa: Situ Udik, Situ Ilir dan Cimanggu I.   Dari data tahun 2012 kondisi penggilingan padi hampir sama, hanya satu penambahan yaitu penggilingan padi sedang dan moderen, miik H Gofar di desa Situ Udik, merupakan bantuan pemerintah pada tahun 2015 dengan kapasitas 1 ton/jam. Perubahan lain adalah  penggunaan pengering (driyer) kapasitas 1 ton pada PPK H. Lamsuni (desa Situ Udik pada tahun 2015) dan H Achmad Sucipto dengan kapasitas driyer 2 ton (desa Giri Mulya pada tahun 2014). Secara umum keadaan lahan dan penggilingan padi di Kecamatan Cubungbulang dikemukakan pada Tabel 7 berikut.

Tabel 7.     Keadaan Luas Lahan dan Penggilingan Padi di Kecamatan Cibungbulang

No

Desa

Areal Sawah *)

Jumlah

PPK **)

Keterangan

1

Situ Udik

143 Ha

13 Unit

Lokasi Penelitian, PPK Sekarang 8 unit

2

Situ Ilir

142 Ha

5 Unit

Lokasi Penelitian PPK sekarang 3 unit

3

Cibatok I

113 Ha

1 Unit

Terjadi alih komoditas

4

Cibatok II

111 Ha

1 Unit

Terjadi alih komoditas

5

Ciaruteum Udik

104 Ha

5 Unit

 

6

Ciaruteum Ilir

108 Ha

2 Unit

 

7

Leuweung Kolot

113 Ha

2 Unit

 

8

Cimanggu I

104 Ha

4 Unit

 

9

Cimanggu II

103 Ha

1 Unit

 

10

Dukuh

113 Ha

3 Unit

 

11

Ciujung

112 Ha

3 Unit

 

12

Sukamaju

113 Ha

3 Unit

 

13

Galuga

111 Ha

1 Unit

Konversi lahan

14

Giri Mulya

119 Ha

3 Unit

 

15

Cemplang

115 Ha

2 Unit

Konversi lahan

 

Total

1724 Ha

50 Unit

 

*) Data UPT Pertanian Wil Cibungbulang.  **) Data Dinas Pertanian Kab. Bogor

 

Permasalahan adalah terjadi alih fungsi lahan untuk keperluan lainnya, serta alih komoditas ke non padi, terutama sayuran daun, kacang panjang, singkong dan ubi jalar, karena lebih menguntungkan dan pasar terjamin. Penerapan teknologi budidaya sudah cukup bagus, namun kesamaan atau kekompokaan dalam menerapkan polatanam masih belum, cenderung jalan sendiri-sendiri. Terjadi perubahan data kondisi dan kepemilikan PPK di kedua desa, umumnya berkurang karena mesin sudah tua dan tidak ada investasi baru, tidak ada regenerasi pengelola dan kekurangan areal padi (inputs). Disni terdapat satu penggilingan padi menengah, milik Gapoktan Barokah Sejahtera, yang merupakan bantuan pemerintah pada tahun 2015, akan tetapi pengelolaannya belum optimal. Gambaran umum keadaan PPK yang menjadi objek penelitian dikemukakan pada Lampiran 5.

 

  1. B.   Proses Pengeringan Gabah

Di lokasi penelitian, penggilingan padi juga menerima dan membeli GKP dari petani untuk dikeringkan dan diolah menjadi GKG. Pengeringan dilakukan dengan sinar matahari di lantai jemur yang ada di setiap PPK, sampai gabah menjadi siap digiling (GKG). Penetapan kadar air gabah sejauh ini dilakukan secara manual (tanpa alat), sehingga datanya sangat beragam. Dalam proses pengeringan ini selain untuk penurunan kadar air, juga dilakukan pembersihan gabah hampa dan sampah. Data hasil pengukuran bahan pada proses GKP menjadi GKG pada beberapa PPK dikemukakan pada Tabel 8 berikut.

            Tabel 8. Hasil Pengukuran Bahan Proses Pengeringan GKP menjadi GKG

Kode

GKP

Kadar Air

Gabah Hampa

dan Sampah (%)

Hasil GKG

(Kg)

 (%)

(%)

GHSIC-1

46,00

 

0,46

78,26

GHSIC-1

47,00

 

0,49

76,60

KLDCC-1

49,00

24,9

0,55

75,51

KLDCC-2

52,00

24,9

0,15

74,04

STPPC-1

30,90

20,26

1,07

80,91

STPPC-2

31,10

19,93

4,02

81,99

Rata-rata 

 

22,50

1,12

77,88

Dari hasil pengukuran di lapangan, rata-rata kadar air GKP adalah 22,50%, untuk mendapatkan kadar air rata-rata 14,62%, maka akan terjadi pengurangan bobot sebesar 22,12 persen, disebabkan karena penurunan kadar air oleh proses pengeringan (7,88%) adanya sampah dan gabah hampa yang dipisahkan (1,12 %), serta kehilangan hasil dalam proses pengeringan (13,12%).

Hasil penghitungan ini juga memperlihatkan bahwa adanya kehilangan hasil yang tidak terdeteksi dan tidak terhitung sebesar 13,12%. Kehilangan hasil terjadi karena sampah yang terbawa angin, dimakan oleh hama (ayam, itik, burung) ataupun tercecer saat pengantongan. Bila dibandingkan dengan pengalaman pengelola PPK di lapangan, penurunan bobot sebesar 30 % dianggap wajar, karena sangat dipengaruhi oleh kualitas gabah, varietas, dan pembersihan di lahan sesudah panen.

 

  1. C.   Keseimbangan Bahan (Material Balance)

Dalam melakukan analisis keseimbangan bahan proses produksi penggilingan padi pada PPK dilakukan melalui pengukuran berat (penimbangan) bahan baku, hasil dan hasil sampingan pada setiap proses pengolahan, selanjutnya diandingkan dengan keadaan umum pada proses penggilingan padi.  Hasil pengukuran  keseimbangan bahan secara detail dikemukakan pada Lampiran 6, 7 dan 8, sementara rata-rata hasil dan perbandingan dengan standar dikemukakan pada Tabel 9 berikut.

Tabel 9. Komparasi Keseimbangan Bahan Pengolahan Padi

No

Jenis Produk

Hasil Pengukuran

(%)

Standar

(%)

1

GKG

100 (KA 14,62%)

100 (KA 14%)

2

Beras

63,54

57 – 60

3

Sekam

21,18

20 – 22

4

Dedak

11,42

8 – 10

5

Beras Slip

-

54-57

6

Beras Kepala

53,09

50

7

Beras Patah

10,45

2 – 5

8

Menir

0,43

2 - 5

 

Dibandingkan dengan keadaan standar, maka tingkat kekeringan (kadar air) gabah yang digiling masih lebih tinggi, namun ini merupakan keadaan umum yang biasa digunakan petani. Jumlah dedak yang dihasilkan lebih tinggi dari standar sementara jumlah menir lebih sedikit, diduga sebagian menir terproses masuk ke dalam dedak, karena pada PPK tidak ada proses pemisahan secara baik.  Bila dijumlahkan prosesentase dedak dan menir pada hasil pengukuran yaitu sebesar 11,45 %, maka angkanya masih berada pada kisaran standar (kisaran 10-15%).

Terhadap hasil sampingan berupa sekam, dedak, bekatul dan menir selama ini dikumpulkan, selanjutnya dijual atau dimanfaatkan sendiri untuk berbagai keperluan, seperti makanan ternak, makanan ikan, bahan untuk proses peternakan ayam, pupuk untuk tanaman hias, dll. Akan tetapi umumnya hasil sampingan ini tidak dimanfaatkan sendiri oleh pengelola PPK.

Penghitungan efisiensi keseimbangan bahan (sebagaimana dikemukakan pada Tabel 10 dan Lampiran 6), maka hasilnya mencapai rata-rata 96,36%, ini artinya dalam proses pengolahan GKG menjadi beras ada materi yang hilang, tidak terdeteksi dalam perhitungan, sekitar 3.64%. Dilihat dari persentase ini cukup kecil; namun bila materi ini terakumulasi dan dalam jumlah besar, maka jumlahnya tentu akan cukup besar. Dari data pengukuran, keadaan kadar air GKG ternyata berpengaruh pada efisiensi keseimbangan bahan ini, kadar air yang lebih rendah dari standar (PMPLC-1, PMPLC-2, KLDD-1 dan KLDD-2) menyebabkan efisiensi keseimbangan bahan lebih tinggi, sehingga tidak banyak materi yang hilang dan terbuang pada lingkungan.

Tabel 10. Hasil Pengukuran Efisiensi Keseimbangan Bahan

No

Kode Lokasi

Efisiensi MB

Kadar Air

(%)

(%)

1

KSAPC-1

91,29

14,30

2

KSAPC-2

93,04

13,93

3

PMPLC-1

98,84

13,10

4

PMPLC-2

97,92

13,05

5

BSUCB-1

96,30

15,80

6

BSUCB-2

98,42

15,80

7

GHSIC-1

93,92

16,50

8

GHSIC-1

94,44

16,50

9

KKCUC-1

98,02

14,80

10

KKCUC-2

94,47

14,70

11

KLDCC-1

99,84

13,63

12

KLDCC-2

99,79

13,35

 

Rata-rata

93,04

14,62

 

 

Perbandingan keseimbangan bahan pengolahan padi antar lokasi dalam hal ini kecamatan, maka tingkat keseimbangan bahan tertinggi adalah di kecamatan Ciampea (98,03%), diikuti oleh Kecamatan Cibungbulang (95,77%)  dan kecamatan Ciomas (95,27%). Ini artinya bahwa tingkat kehilangan materi yang tidak terdeteksi lebih rendah atau kondisi lingkungan dalam proses penggilingan lebih baik di kecamatan Ciampea. Akan tetapi dari hasil uji statistik kondisi ini sebenarnya tidak berbeda nyata (not-significant).

Perbandingan keseimbangan bahan pengolahan padi antara padi varietas Ciherang (sebagai varietas dominan di daerah ini) dengan varietas lainnya menunjukkan hasil rata-rata 95,83%, dan varietas lainnya 97,41%. Ini juga membuktikan bahwa varietas memang berpengaruh pada keseimbangan bahan proses pengolahan padi. Data ini menunjukkan bahwa tingkat kehilangan materi yang tidak terdeteksi lebih rendah atau kondisi lingkungan dalam proses penggilingan lebih baik pada pengolahan padi dengan varietas selain ciherang (Non Ciherang). Akan tetapi dari hasil uji statistik kondisi ini sebenarnya tidak berbeda nyata (not-significant).

Disamping adanya hasil sampingan dan sampah, kehilangan materi dalam dalam pengolahan padi pada PPK inilah yang akan menjadi masalah pada lingkungan (dapat berupa partikel debu di udara, partikel yang menimbulkan pengotoran di lingkungan, sampah tercecer di ruangan pengolahan),  dan tentunya juga menimbulkan masalah pada kesehatan pekerja.  Tingginya jumlah materi yang tidak terdeteksi menunjukkan bahwa perinsip produksi bersih belum bisa diterapkan pada PPK, hal ini memang terlihat dengan kondisi lingkungan yang tidak teratur, kotor dan udara yang pengap.

 

  1. D.   Efisensi Pengolahan Padi

Banyak faktor yang berpengaruh pada tingkat efisiensi proses pada penggilingan padi, antara lain; varietas padi, daerah asal gabah, kualitas padi pada saat panen, proses penanganan pascapanen sebelum dikeringkan, kadar air GKG, keadaan mesin pengolahan (umur, jenis, kapasitas, dll), cara pengoperasian mesin penggilingan padi. Secara umum, efisiensi proses poduksi pada GKG dengan kadar air 14 % adalah berkisar antara 57-60%.  Hasil pengukuran efisiensi produksi dan faktor terkait yang diukur dalam penelitian ini dikemukakan pada Tabel 11 berikut.

 

 

Tabel 11, Hasil Pengukuran Efisiensi Pengolahan Padi pada PPK

No

Kode Lokasi

Efisiensi

Kadar Air

Varietas

(%)

(%)

1

KSAPC-1

56,86

14,30

Ciherang

2

KSAPC-2

54,55

13,93

Ciherang

3

PMPLC-1

68,40

13,10

Cidenok

4

PMPLC-2

66,80

13,05

Cidenok

5

BSUCB-1

66,33

15,80

Ciherang

6

BSUCB-2

65,53

15,80

Cibogo

7

GHSIC-1

61,11

16,50

Ciherang

8

GHSIC-1

61,11

16,50

Ciherang

9

KKCUC-1

65,55

14,80

Ciherang

10

KKCUC-2

63,82

14,70

Impari-31

11

KLDCC-1

64,86

13,63

Ciherang

12

KLDCC-2

67,53

13,35

Ciherang

 

Rata-rata

63,54

14,62

 

 

Dari data diatas, terlihat bahwa tingkat efisiensi proses pengolahan padi menjadi beras sebesar 63,54%, keadaan ini lebih baik dibandingkan dengan rata-keadan PPK secara umum, yang biasanya hanya sampai 60%. Efisiensi yang lebih rendah dari standar didapatkan pada PPK dengan kode KSAPC-1 dan KSAPC-2 (PPK milik Ade Mulyana, di desa Parakan, Ciomas), dari GKP yang digunakan sudah kelihatan bahwa gabah ini kualitasnya rendah (kehitaman, sepertnya pernah terendam, meskipun kemudian dikeringkan sampai kadar air sekitar 13%), sehingga berpengaruh pada hasilnya.

Perbandingan tingkat efisiensi proses pengolahan padi antar lokasi dalam hal ini kecamatan, maka tingkat efisiensi proses pengolahan padi tertinggi adalah di kecamatan Ciampea (65,44%), diikuti oleh Kecamatan Cibungbulang  (63,52%)  dan kecamatan Ciomas (61,65%). Ini artinya bahwa kehilangan hasil (losses) pada kegiatan penanganan pascapanen (terutama pengeringan) sangat berpengaruh, dan proses pengeringan di Ciampea lebih baik. Akan tetapi dari hasil uji statistik kondisi tingkat efisiensi proses pengolahan padi sebenarnya tidak berbeda nyata (not-significant).

Perbandingan tingkat efisiensi proses pengolahan padi antara padi varietas ciherang (sebagai varietas dominan di daerah ini) dengan varietas lainnya menunjukkan hasil rata-rata 62,24%, dan varietas lainnya 66,14%. Ini juga membuktikan bahwa varietas memang berpengaruh pada tingkat efisiensi proses pengolahan padi dan ini juga terkait dengan kegiatan penanganan pascapanen (terutama pembersihan dan pengeringan). Data ini menunjukkan bahwa tingkat kehilangan hasil pada varietas Non-Ciherang lebih baik, dan rata-rata kadar airnya adalah 14,16%, lebih rendah dari kadar air rata-rata varietas Ciherang (14,85%). Keragaman varietas dalam penelitian ini tidak memberikan pengaruh yang cukup berbeda pada efisiensi pengolahan.  Akan tetapi dari hasil uji statistik kondisi tingkat efisiensi proses pengolahan padi sebenarnya tidak berbeda nyata (not-significant).

Kadar air GKG pada penelitian ini bervariasi, meskipun mendekati standar GKG. Ternyata GKG dengan kadar air lebih rendah memberikan efisiensi  proses pengolahan lebih tinggi (seperti terlihat pada PMPLC-1 dan PMPLC-2), namun untuk mendapatkan kadar air tersebut diperlukan upaya yang lebih besar.

Hasil penghitungan efisiensi ini juga berbeda dengan yang diungkapkan oleh pengelola PPK.  Mereka menyampaikan efisiensi yang bervariasi antar PPK, 50-60%, 45-50%, tergantung pada kualitas GKG. Namun tidak ada yang menyatakan efisiensi lebih dari 60%.  Hal ini karena mereka tidak melakukan penghitungan, akan tetapi tingkat efisiensi, hanya berdasarkan pengalaman dan pengamatan secara umum, disamping itu dikarenakan upah giling dihitung berdasarkan beras hasil proses giling, dan kemungkinan juga terkait dengan pengelolaan bisnis beras oleh pengelola PPK.

 

  1. E.   Pengelolaan Lingkungan

Pengamatan pengelolaan lingkungan dilakukan pada PPK sebagai akibat dari operasional mesin PPK, pemanfaatan bangunan dan ruang, serta dampak operasional mesin pada lingkungan dan masyarakat sekitar. Pada umumnya keadaan bangunan dan kondisi lingkungan pada PPK yang diamati hampir sama. Beberapa masalah lingkungan adalah sebagai berkut.

  1. Kebisingan disebabkan oleh mesin penggerak cukup tinggi. Mesin penggerak biasanya merek Don Feng, Yanmar, Kubota denga kapasitas 8-22 PK.  Mesin ditempatkan satu ruangan dengan ruangan penggilingan padi, operasional mesin ini bahkan menimbulkan getaran.  Akan tetapi pengelola dan pekerja sudah terbiasa dengan kondisi tersebut (tanpa ear plug), mekipun dalam waktu lama hal ini diperkirakan akan menganggu pendengaran pekerja.  Dampak pada masyarakat sekitarnya juga akan muncul, terutama pada penggilingan padi yang sangat berdekatan dengan pemukiman masyarakat, meskipun sampai sekarang keluhan itu belum ada.
  2. Partikel debu/asap, cukup banyak beterbangan di dalam ruangan penggilingan.  Disini kelihatan banyak partikel debu beterbangan, diindikasikan dengan banyaknya menempel di dinding, loteng, pada jaring laba-laba, mesin dan peralatan, tanpa ada pembersihan sehingga akan terakumulasi.

Asap dari aliran knalpot mesin banyak di ruangan (masuk ke ruangan), umumnya mesin penggilingan tanpa pembuangan udara knalpot mesin ke luar ruangan, sehingga asap ini menyesakkan nafas. Umumnya merupakan ruangan tertutup dengan ventilasi terbatas dan tanpa ada exhaust fan untuk membuang dan mengarahkan angin.

Adanya partikel debu ini merupakan bagian dari keseimbangan bahan pengolahan padi yang tidak terhitung/terukur, namun akumulasinya akan menimbulkan masalah bagi pekerja dan lingkungan. Sejauh ini juga belum ada keluhan tentang debu dan asap ini dari masyarakat sekitar.

  1. Aliran air limbah  dan leaching bahan, leaching air berasal dari tumpukan sekam atau dari dalam bangunan terbuang ke selokan disebelahnya,

Adanya penumpukan sekam atau aliran air dari bagunan dan ruangan penggilingan padi ini akan menimbulkan pencemaran di badan perairan. akan tetapi jumlahnya sedikit, sehingga sejauh ini tidak mempengaruhi kondisi lingkungan.

  1. Penataan Ruangan dan Lokasi,

Ruangan tanpa penataaan yang baik, di dalam satu ruangan digunakan untuk menyimpan traktor tangan, mesin-mesin, perkakas, pupuk organik, sekam dan dedak yang sdah dimasukkan ke karung, BBM, berbagai peralatan lainnya, bahkan handsprayer dan pestisida juga disimpan disimpan di ruangan ini.

Tidak ada batas dan penyekat dalam ruangan, kondisi lantai biasanya tidak besih, dengan konstruksi plesteran semen, serta pencahayaan terbatas

Pada beberapa PPK, sekarang terjadi penumpukan sekam di dalam ruangan maupun di luar, karena pihak yang biasanya membeli dan mengambil sekam berkurang, karena jumlah pengusahan ayam juga berkurang (terkena aturan bahwa kandang ayam harus  berada > 300 m dari pemukiman). Tanpa pengaturan dan pembersihan, ini memang sudah tipikal PPK di lapangan, dijadikan ruangan serbaguna tanpa memperhatikan aspek kesehatan, keselamatan dan keamanan.

PPK umumnya berada pada lokasi yang strategis, dekat dengan jalan dan punya akses jalan masuk, akan tetapi beberapa diantaranya sudah berada ditengah pemukiman warga (seperti pada GHSIC dan PMPLC.

  1. Kebersihan dan Penanganan Sampah/Limbah.

Kelihatan sekali tidak ada fasilitas/tempat khusus untuk mengumpulkan dan menampung sampah. Sampah di ruangan biasanya dikumpulkan dan kemudian dibakar, akan tetapi umumnya keadaan di ruangan kotor.

Sarana Kebersihan, berupa tempat pencucian dan toilet tidak ada. Umumnya Tidak mempunyai sarana kebersihan, air bersih dari kran, tetapi tidak jauh dari sini ada kolam.

Sebagian sekam juga dibakar dan sebagian didekomposisi, selanjjutnya akan digunakan sebagai pupuk tanaman, akan tetapi tidak ada proses pembuatan kompos dengan dipercepat (menggunakan EM4 misalnya).

  1. Bangunan dan ruangan, bangunan bersifat permanen namun tidak sempurna, bangunan sudah tua (sekitar 25 tahun) sudah banyak yang rusak dan bocor, namun belum ada upaya untuk memperbaiki dan renovasi.

Kebanyakan PPK tidak mempunyai ruangan gudang khusus yang terpisah dari ruangan pengolahan, dan tidak berinisatif untuk memisahkan KGK/beras dengan peralatan, bahan dan mesin lainnya.

Fakta bahwa pengelola PPK tidak tertarik memperbaiki bangunan, karena menunggu bantuan pemerintah untuk memperbaiki (pada hal banyak diantaranya termasuk orang mampu), sebelumnya PPK ini merupakan batuan pemerintah juga.  PPK yang lama milik sendiri masih ada dan sudah tidak beroperasi, tetapi juga tidak dibuang, menjadi besi tua.

  1. Lantai Jemur, setiap PPK mempunyai lantai jemur ((bahkan ada yang mempunyai dua buah), merupakan lantai plester semen, akan tetapi konstruksi permukaanya tidak dibuat melengkung atau miring, sehingga riskan terjadi genangan air. Umumnya tidak terawat, ditumbuhi rumput, sudah banyak yang pecah dan bolong-bolong, sehingga menimbulkan kotoran pad padi yang dijemur atau kehilangan hasil.

Sejauh ini memang belum ada dampak negatif yang signifikan dari opersional PPK pada lingkungan dan masyarakat sekitar.  Namun kondisi ruangan dan kegiatan operasional PPK yang tidak tertata dengan baik akan menimbulkan pengaruh negatif pada pekerjanya.

 

  1. V.          KESIMPULAN DAN SARAN
  2. A.   Kesimpulan
    1. Dengan penelitian ini dapat dikaji keadaan keseimbangan bahan (material balance) dan efisiensi proses pengolahan padi pada Penggilingan Padi Kecil (PPK) pada beberapa kecamatan sentra produksi beras di Kabupaten Bogor, sehingga dapat menggambarkan keadaan dan permasalahan PPK di lapangan.
    2. Proses pengeringan GKP cukup efisien, dari kadar air GKP adalah 22,50%, menjadi kadar air GKG rata-rata 14,62%, terjadi pengurangan bobot sebesar 22,12 persen (umumnya 30% dianggap wajar), akan tetapi hasil pengkajian memperlihatkan bahwa adanya kehilangan hasil yang tidak terdeteksi dan tidak terhitung dalam pengeringan ini sebesar 13,12%. Kehilanga hasil ini terjadi karena sampah yang terbawa angin, dimakan oleh hama (ayam, itik, burung) ataupun tercecer.
    3. Dibandingkan dengan keadaan standar, maka tingkat kekeringan (kadar air) GKG masih lebih tinggi, namun ini merupakan keadaan umum yang digunakan petani (masih dalam kisaran standar). Jumlah sekam masih berada dalam kisaran standar (sebagai indikator penanganan pascapanen cukup baik).  Jumlah dedak yang dihasilkan lebih tinggi dari standar (lebih banyak dedaknya), jumlah menir lebih sedikit, namun bila dijumlahkan prosesentase dedak dan menir (11,45 %), maka angkanya masih pada kisaran standar (kisaran 10-15%).
    4. Efisiensi keseimbangan bahan mencapai rata-rata 96,36%, ini artinya dalam proses pengolahan GKG menjadi beras ada materi yang hilang, tidak terdeteksi dalam perhitungan, sekitar 3.64%.  Kehilangan materi inilah yang akan menjadi masalah lingkungan (dapat berupa partikel debu di udara, partikel yang menimbulkan pengotoran di lingkungan, sampah tercecer di ruangan pengolahan),  dan menganggu kesehatan pekerja.
    5. Perbandingan keseimbangan bahan antar kecamatan, keadaan PPK di kecamatan Ciampea paling baik (98,03%), diikuti oleh Cibungbulang (95,77% dan Ciomas (95,27%). Varietas Ciherang sebagai varietas dominan digunakan masyarakat mempunyai keseimbangan bahan lebih rendah (95,83%) dibandingkan dengan varietas lainnya (97,41%). Aspek penanganan pascapanen sangat berpengaruh pada hasil keseimbangan bahan ini.
    6. Tingkat efisiensi proses pengolahan padi menjadi beras sebesar 63,54%, keadaan ini lebih baik dibandingkan dengan rata-keadan PPK secara umum, yang biasanya hanya sampai 60%.  GKG dengan kadar air lebih rendah  dari standar memberikan efisiensi  proses pengolahan lebih tinggi, tetapi juga membutuhkan energi dan upaya lebih tinggi.
    7. Perbandingan tingkat efisiensi pengolahan padi antar kecamatan, keadaan PPK di kecamatan Ciampea paling baik (65,44%), diikuti oleh Cibungbulang (63,52% dan Ciomas (61,65%). Varietas Ciherang sebagai varietas dominan digunakan masyarakat mempunyai efisiensi pengolahan lebih rendah (62,24%) dibandingkan dengan varietas lainnya (66,14%). Kegiatan penanganan pascapanen sangat berpengaruh pada efisiensi ini.
    8. Ditemukan berbagai permasalahan lingkungan dalam pengelolaan PPK yang selama ini terabaikan, anara lain, kebisingan, partikel debu dan asap, kebersihan ruangan, pengaturan ruangan, ventilasi dan udara, pengoperasian, penyediaan sarana dan prasarana, dll. Masalah ini lebih benyak berdampak pada kondisi internal, sementara pada masyarakat sekeliling masih belum ada dampak negatifnya.

 

  1. B.   Saran-Saran
  2. Dalam operasional PPK agar meningkatkan keseimbangan bahan dan efisiensi produksi agar semua bahan dapat diideteksi dan selanjutnya tertangani dengan baik.
  3. Melanjutkan penelitian keseimbangan bahan dan efisiensi produksi antar varietas dengan proporsi objek yang seimbang, sehingga didapatkan data yang lebih akurat
  4. Data efisiensi proses produksi hasil pengukuran jauh berbeda dengan yang selama ini digunakan pegelola PPK (berdasarkan pengalaman). Data ini supaya digunakan sebagai dasar untuk perbaikan/penggantian sarana, alsintan dan ruangan pengolahan.
  5. Meningkatkan pengelolaan lingkungan internal di PPK karena kondisinya kurang baik dan nyaman bagi pekerja.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Anderson, D.A,. 2010.  Environmental Economics and Natural Resources Management.  Roudledge Publishing. London.
  2. Davis, .M.L and S.J. Masten. 2009. Principles of Environmental Engineering and Science (second edition). McGraw Hill Higher Education. New York.
  3. Edmunds, S dan J. Latey. 1973. Environmental Administration. McGraw Hill Book Company. New York.
  4. Fauzi, A.  2004. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan; Teori dan Aplikasi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
  5. Field, B.C dan M.K. Field. 2002. Environmental Economics; An Introduction. McGrraw Hill-Irwin. New York, USA.
  6. Indrasti, N. S dan A. M. Fauzi. 2009. Produksi Bersih. IPB Press. Bogor.
  7. Masters, G. M., dan W. P. Ella. 2005.  Introduction to Environmental Engneering and Science. Pearson International. Inc. Sadle River, USA.
  8.  Mitchell,  B., B. Setiawan dan D. Rahmi.  2003. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan (Terjemahan),. Gadjah Mada Universiry Press. Yogyakarta.
  9. Thomas, J.M, dan S. C. Callan.  2008. Environmental Economics;  Aplication, Policy and Theory. Thomson Higher Education.  Mason USA.
  10. Turner, R.K, D. Pearce and I. Bateman. 1994. Environmental Economics; An Elementary Introduction. Harvester Wheatsheaf. New York.
  11. Sigit Nugraha (2012) Inovasi Teknologi Pascapanen untuk Mengurangi Susut Hasil dan Mempertahankan Mutu Gabah/Beras di Tingkat Petani. Buletin Teknologi Pascapanen, Volume 8, Nomor 1 tahun 2012, Halaman 48-61.
  12. Rahmat, Ridwan, dkk (2015) Teknologi Pascapanen Padi. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor.

 

 

File : Makalah Hasil MB-PPK/Final Result MB/Mat Balance Research/Riset RnD/Yul Bahar



Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas