Bogor (Antara Megapolitan) - Sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP) Bogor, kembali berkuliah setelah mengikuti kegiatan pendampingan program APBN-P upaya khusus sapi indukan wajib bunting atau Siwab yang berakhir November 2017. 

Dosen pembimbingan mahasiswa STPP Bogor, Wahyuningsih di Bogor, Senin, menyebutkan, mahasiswa tersebut telah melakukan pendampingan selama dua bulan yakni dari Oktober sampai November 2017. 

"Sejumlah mahasiswa sudah kembali ke kampus melanjutkan perkuliahan, beberapa kesan dan pesan, serta pengalaman telah didapatkan selama bertugas di lapangan," kata Wahyuningsih. 

Salah satu daerah yang didampingi oleh mahasiswa STPP Bogor yakni di Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Pendampingan khusus untuk program APBNP-SIWAB. 

Sebagai dosen pembimbing lanjut Wahyu, pihaknya sangat berterimakasih kepada tim yang terlibat serta pemerintah daerah yang ikut membantu menyukseskan program APBNP-SIWAB yang diluncurkan Kementerian Pertanian dengan tujuan mewujudkan swasembada pangan dan daging di daerah.

"Selama pendampingan mahasiswa juga didampingi para inseminator di lapangan, selama kegiatan mahasiswa mendapatkan ilmu, pengalaman dan keterampilan," katanya.

Ia mengatakan banyak hal yang dapat dipelajari oleh mahasiswa selama melakukan pendampingan program seperti menangani kasus penyakit, melakukan inseminasi buatan, membantu prodes melahirkan ternak milik peternak, dan masih banyak lagi yang jarang ditemui di kampus. 

"Dua bulan pendampingan yang pasti berkesan bagi mahasiswa, dan juga peternak," kata Wahyuningsih. 

Menurut Suhardi petugas inseminator yang menjadi pendamping luar mahasiswa program APBNP-SIWAB yang melibatkan pihak kampus sangat membantu pihaknya dalam menjalankan program SIWAB di Kecamatan Tanjung Sari, Lampung Selatan. 

"Program ini juga membuka ruang komunikasi antara kampus dengan petugas lapangan, jika ada informasi terbaru mengenai peternakan bisa saling memberitahukan untuk mendukung peternak," kata Suhardi. 

Sementara itu Kepala UPT Puskeswan/Pusat Kesehatan Hewan Kecamatan Tanjung Sari, Zuhri Ali juga merasakan manfaat dari program Kementerian Pertanian tersebut. 

Menurut Zuhri program tersebut jadi pembelajaran bagi mahasiswa bila nanti menjadi peternak sudah memiliki pengalaman saat mendampingi peternak di lapangan. 

"Agar sukses dalam beternak harus diiringi kesabaran dan keseriusan. Beternaklah dengan usaha yang maksimal sampai kita merasakan hasil dari beternak," katanya. 

Salah satu mahasiswa STPP Bogor Rahmatsyah Rizky mengatakan banyak ilmu yang diperoleh selama melakukan pendampingan, terutama ilmu sebagai penyuluh peternakan. 

"Tentunya pengalaman ini akan menjadi berharga, ilmu di lapangan sangat membantu kami mahasiswa untuk mempersiapkan diri setelah lulus nanti," kata Rizky. 

STPP Bogor menurunkan 179 orang mahasiswanya menjadi tenaga pendamping program APBN-P pengawalan benih serta SIWAB di sejumlah provinsi. Program ini juga melibatkan mahasiswa dan alumni dari tujuh perguruan tinggi mitra yakni IPB, Universitas Siliwangi, Universitas Padjajaran, Universitas Singaperbangsa, Universitas Lampung, Universitas Bengkulu, dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.