TANGGAL
23 June 2017
M
S
S
R
K
J
S
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
pmb onlinePaJaLePortal Multimediabmkg
WEBMAIL
AGENDA
  • [01-10-2016 - 01-10-2016] Konsinyasi BMN
  • [05-10-2016 - 05-10-2016] Sosialisasi Pelayanan Publik STPP Bogor
  • [06-10-2016 - 07-10-2016] Final Lomba Website Lingkup BPPSDMP
SOCIAL MEDIA


RADIO ONLINE
Get the Flash Player to hear this stream.

SEMINAR NASIONAL POKJANAS TOI KE 50 DI UNMUL, SA

Tanggal : 18/05/2016

Pada tanggal 20-21 April 2015 telah dilaksanakan Seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia yang ke 50, bertempet di Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda (Kalimantan Timur). Kegiatan dini dilakukan sebagai kerjasama antara Civitas Academica Fakultas Farmasi UNMUL dengan POKJANAS TOI (Kelompok Kerja Nasional Tumbuhan Obat Indonesia). Peserta bersal dari Badan POM, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta perwakilan dari 18 perguruan tinggi terkait dengan ilmu farmasi dan herbal, industri jamu/herbal dan produk terkait. 

Tema seminar adalah “Penggalian, Pelestarian dan Pemanfaatan Tumbuhan Obat secara Berkelanjutan”, dan Sub-Tema adalah “Bawang Dayak dan Tabat Barito Sumber Bahan Farmasi Potensial dari Bumi Borneo”. Selain seminar acara ini juga diisi dengan gelas poster pnelitian tanaman obat gai institusi, perguruan tinggi dan lebaga penelitian, pameran produk oleh berbagai perusahaan jamu dan herbal, serta bursa tanaman dan produk pertanian. .Dalam acara juga digelar pementasan seni dan budaya tradisional lokal, berupa tarian dan nyanyian Acara pembukaan pada tangal 20 April 2016, diawali dengan laporan ketua panitia, dilanjutkan dengan sambutan dari Dekan Fakultas Farmasi (Dr. Laode Rijai, MSi), sambutan Sekjen POKJANAS TOI (Dra Lucie Widiowati, MSi). Setelah Sambutan Pembukaan oleh Rektor UNMUL Rector (Prof Dr. H. Masjaya, MSc) dilakukan pemukulan Gong sebagai pertanda acara ini dibuka secara resmi.


Dalam acara Seminar Nasional ini, Dr. Yul H. Bahar (dosen STPP Bogor, mewakili Kementerian Pertanian) memaparkan makalah sebagai pembicara kunci (Keynote Speaker) dengan makalah berjudul “Kebijakan dalam Pengembangan Tanaman Obat Indonesia”. Nara sumber lainnya berasal dari Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT, POKJANAS TOI, UNAND Padang, UG Yogyakarta, UNMUL Samarinda, IPB Bogor, Balai Konservasi Sumberdaya Hutan KalTim, disamping itu juga menyampaikan makalah dari perusahaan jamu Borobudur, Sido Muncul, dll.

 

Dalam rangkaian acara Seminar Nasional, juga dilakukan pertemuan Tim Pembina POKJANAS TOI yang dipimpin oleh Sekjen POKJANAS TOP (dra. Lucie Widiowati, MSi), dihadiri oleh segenap anggota Dewan Pembina, dan Perguruan Tinggi terkait dalam pelaksanaan Seminar Nasional berikutnya. Dalam hal ini Dr. Ir. Yul H. Bahar telah hadir sebagai anggota Dewan Pembina, sekaligus memproklamirkan diri sebagai perwakilan dari STPP Bogor. Beberapa pokok bahasan dalam pertemuan ini adalah: 1) Laporan persiapan pelaksanaan Seminar TOI ke 51 pada bulan Oktober 2016 di Bandung oleh STF Bandung, 2) Pengaturan dan perumusan topik bahasan pada seminar berikutnya sampai tahun 2018, 3) Revitalisasi dan pengaturan ulang cakupan dan keanggotaan POKJANAS TOI. Sebagai bahan informasi berikut adalah Abstrak Makalah berjudul “Kebijakan dalam Pengembangan Tanaman Obat Indonesia” yang disampaikan pada Seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia ke 50 di Universitas Mulawarman, Samarinda.

 

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN TANAMAN OBAT INDONESIA
Oleh: Dr. Ir. Yul H. Bahar Dosen Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Bogor

ABSTRAK Target pengembangan tanaman obat oleh Ditjen Hortikultura adalah: 1) Pemenuhan kebutuhan dan permintaan dalam negeri, 2) Mendukung penyediaan bahan baku untuk pengobatan tradisional, industri herbal dan saintifikasi jamu, dan 3) Mendorong penyediaan produk untuk ekspor segar maupun olahan primer. Fasilitasi melalui Program Pengembangan Hortikultura hanyalah komoditas jahe, kencur, kunyit. temulawak, kapulaga dan lidah buaya, sebelumnya pernah tananaman purwoceng. Kebijakan pengembangan tanaman obat adalah  Peningkatan produksi dengan Pendekatan Pengembangan Kawasan, 2) Fasilitasi sarana dan peralatan budidaya kepada kelembagaan petani di kawasan pengembangan, 3) Pemberdayaan petani/pelaku usaha, 4) Penguatan akses pasar bagi kelembagaan petani dan pelaku usaha, 5) Pengembangan kerjasama antar stakeholders, 7) Pengembangan dan pemberdayaan kelembagaan petani dan aparatur Beberapa langkah strategis dalam pembinaan tanaman obat, yaitu; 1) Pengembangan Kawasan Tanaman Obat, 2) Penerapan Budiaya Tanaman Obat yang Baik atau GAP, 3) Pengembangan Desa Organik berbasis tanaman obat, 4) Penguatan Kelembagaan Petani, 5) Pebentukan jaringan komunikasi dan informasi, 6) Peningkatan Kapabilitas Sumberdaya Manusia, 7) Pendampingan Petani/ Kelembagaan Petani. Dewasa ini tanaman obat masih sebagai komoditas inferior pada kebijakan dan program pembangunan pertanian. Kenyataanya tidak semua komoditas yang diperlukan oleh industri serta pengobatan herbal yang dapat difasilitasi. Oleh karena itu kerjasama, dukungan dan kontribusi (sharing) dari berbagai institusi, baik pemerintah dan swasta sangat diperlukan.

ABSTRACT

Medicinal crops development targets are; 1)Ffulfill the domestic requirement and demand, 2) Support the availability of raw material for traditional medicine, herbal industry and jamu scientification, and 3) support the rhizome product availability for export in form of fresh and primary processed product. The kind of medicinal crops which facilitated through horticulture development program are only; ginger, greater galingale, turmeric, curcuma, cardamom, and aloevera. Previously was also included purwoceng. Policies on medicinal crops development are ; 1) increasing the production through Cluster Development Approach, 2) Provision the inputs, farming machineries and tools to the selected farmers institution in the cluster development areas, 3) Strengthening and empowering the farmers and horticulture businessmen competencies, 4) Improvement the markets access for farmers institution and businessmen, 5) Encouraging the cooperation among stakeholders, 7) Strengthening and empowering the farmers and apparatus institution Some strategic development actions are; 1) Development of medicinal crop clusters, 2) Implementation of medicinal crops Good Agricultural Practices (GAP), 3) Development the medicinal crop based organic villages, 4) Strengthening the farmer’s institutions, 5) encouraging the communication and information networks, 6) improvement the human resource capabilities, 7) Guidance and extension services to the farmers and farmer’s institution. So far, medicinal crops are still placed as inferior commodities in the agriculture development policies and program. In fact, not all commodities needed by herbal and pharmacy industries as well as traditional pengeobatan could be facilitated by Directorate General of Horticulture. Therefore, the cooperation, supporting and sharing by all related institutions are very much required, both government and private institutions.

1) Disampaikan sebagai keynote speech pada Seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia ke 50 di Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman, Samarinda pada tanggal 20-21 April 2016.
2) Direktur Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat , Ditjen Hortikultura pada tahun 2009

Pengirim : RS



Kembali ke Atas


Info Lainnya :