TANGGAL
02 March 2017
M
S
S
R
K
J
S
26
27
28
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
PMB OnlinePaJaLePortal Multimediabmkg
WEBMAIL
AGENDA
  • [01-10-2016 - 01-10-2016] Konsinyasi BMN
  • [05-10-2016 - 05-10-2016] Sosialisasi Pelayanan Publik STPP Bogor
  • [06-10-2016 - 07-10-2016] Final Lomba Website Lingkup BPPSDMP
SOCIAL MEDIA


RADIO ONLINE
Get the Flash Player to hear this stream.

Undang Undang Pangan Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 menyatakan bahwa penyelenggaraan pangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil, merata, dan berkelanjutan berdasarkan kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan ketahanan pangan. Ketahanan pangan dinyatakan sebagai “kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Dalam rangka mencapai ketahanan pangan tersebut, negara harus mandiri dan berdaulat dalam menentukan kebijakan pangannya sesuai dengan sumber daya yang dimilikinya.Sebagai upaya mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan tersebut, Kementerian Pertanian menjabarkan melalui kebijakan pembangunan pertanian.

Pembangunan pertanian hingga saat ini menjadi kebijakan strategis dalam perekonomian nasional. Dalam Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP), peranan tersebut digambarkan melalui kontribusi nyata sektor pertanian terhadap pembentukan kapital; penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, pakan dan bioenergi; penyerapan tenaga kerja; devisa negara; sumber pendapatan petani/ pedagang dan pelestarian lingkungan.

Selanjutnya Kementerian Pertanian menjabarkan kebijakan pembangunan pertanian dalam program “Swasembada Pangan Padi, Jagung dan Kedelai“. Program tersebut diharapkan dapat dicapai pada tahun 2017. Untuk mewujudkan program swasembada padi, jagung dan kedelai  tahun 2017, maka perlu percepatan program pada setiap tahunnya. Pada tahun 2015, produksi padi ditargetkan 73,4 juta ton, jagung 20 juta ton, dan kedelai 1,2 juta ton; kemudian diharapkan meningkat produksinya pada periode-periode selanjutnya.

Program swasembada padi, jagung dan kedelai ditempuh melalui program ekstensifikasi (perluasan areal tanam) dan intensifikasi(peningkatan produktivitas dan peningkatan intensitas pertanaman)  dengan kegiatan,antara lain:

  1. Rehabilitasi Jaringan IrigasiTersier (RJIT), untuk menjamin ketersediaan air yang diperlukan dalam pertumbuhan tanaman padi, jagung dan kedelai yang optimal.
  2. Penyediaan alat dan mesin pertanian berupa traktor roda dua, alat tanam (rice transplanter), dan pompa air untuk menjamin pengolahan lahan, penanaman, dan pengairan yang serentak dalam areal yang luas.
  3. Penyediaan dan penggunaan benih unggul, untuk menjamin peningkatan produktivitas lahan dan produksi.
  4. Penyediaan dan penggunaan pupuk berimbang, untuk menjamin pertumbuhan tanaman padi, jagung dan kedelai yang optimal.
  5. Pengaturan musim tanam dengan menggunakan Kalender Musim Tanam (KATAM), untuk menjamin pertumbuhan tanaman padi, jagung dan kedelai yang optimal, dan untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim  yang menyebabkan gagal panen.
  6. Pelaksanaan Program GerakanPenerapanPengelolaanTanamanTerpadu (GP-PTT).

 

Dalam implementasi kegiatan tersebut terdapat faktor pembatas, yaitu petani dan penyuluh pertanian. Jumlah penyuluh pertanian pada dasawarsa terakhir ini mengalami penurunan yang nyata karena pensiun, alih fungsi ke non penyuluh pertanian, dan rendahnya rekruitmen penyuluh oleh Pemerintah Daerah. Mengingat kondisi tersebut, maka diperlukan tenaga energik dan mandiri yang dapat membantu kinerja penyuluh. Upaya tersebut patut didukung dengan implementasi secara nyata di lapangan dengan memberikan perhatian yang serius dari semua pihak, termasuk perguruan tinggi sebagai komunitas masyarakat akademis, dalam hal ini adalah civitas akademika yang terdiri atas dosen dan mahasiswa.

Menyikapi peran dunia akademik dalam rangka mensukseskan program upsus swasembada padi, jagung dan kedelai yang digagas oleh pemerintah melalui Kementerian Pertanian seperti dijelaskan di atas, Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Bogor telah memprogramkan kegiatan Pendampingan di lapangan pada daerah-daerah sentra potensial pengembangan padi, jagung dan kedelai di Provinsi Jawa Barat. Pendampingan tersebut dilakukan oleh dosen dan mahasiswa/alumni yang implementasinya di lapangan berkoordinasi dengan SKPD terkait, BP3K, dan kelembagaan petani yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan dan produksi padi, jagung dan kedelai.

Masih banyak lagi kegiatan yang dilakukan oleh Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Bogor pada tahun ini antara lain Program pengabdian masyarakat UPPM diarahkan pada pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikapnya antara lain :
1. Pembinaan 15 BP3K wilayah Kabupaten Bogor (9), Kabupaten Cianjur (3), Kabupaten Sukabumi (3)

2. Pendampingan 50 Desa Mitra wilayah Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi